PT Ekamas Fortuna Group Sinarmas Dukung Pengrajin Batik Menenun Corak Tradisional

Ekamas Fortuna group Sinarmas mendukung pengrajin batik menenun corak tradisional
Ekamas Fortuna group Sinarmas mendukung pengrajin batik menenun corak tradisional

Jakarta | EGINDO.com – PT Ekamas Fortuna group Sinarmas mendukung pengrajin batik menenun corak tradisional. Hal itu merupakan satu dari sekian banyak program CSR PT Ekamas Fortuna (Ekamas Fortuna), sebuah satuan bisnis dari APP Sinarmas yang berdiri sejak tahun 1984, telah mendukung pemerintah dalam upaya memberdayakan wanita untuk menjalankan bisnis.

Dilansir dari laman resmi APP Group menyebutkan aktivitas itu dilakukan di Desa Sengguruh, Kabupaten Malang dimana berhasil menggerakan perkembangan ekonomi di daerah tersebut yang dilakukan kelompok batik Kaputren, sebuah perkumpulan wanita dipimpin Sri Rahayu. Selama beberapa tahun, Ekamas Fortuna telah menjadi garis kehidupan bagi masyarakat desa, dengan cara menyediakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan lokal, bersamaan dengan mengembangkan program bantuan sosial untuk komunitas desa.

Disebutkan awalnya tujuan pabrik bukan hanya bertujuan untuk mengangkat ekonomi desa saja, melainkan juga untuk mengangkat warisan budaya desa maka terbentuklah kelompok batik Kaputren. “Batik Kaputren adalah contoh yang baik untuk menunjukkan apa saja yang dapat terjadi ketika sebuah komunitas bersatu. Pada awalnya, proses pembuatan batik sangat mandiri, hampir setiap orang mengerjakannya secara masing-masing,” tulis dalam laman resmi APP Group itu.

Kemudian dijelaskan berkat adanya upaya peningkatan keterampilan, sesi latihan praktek, dan penyediaan alat yang dibutuhkan untuk pengrajin batik wanita, mereka dapat menghasilkan kain batik yang berkualitas lebih tinggi. Setelah meja yang dibutuhkan untuk membuat batik, widangan (sebuah kerangka yang berfungsi untuk melebarkan kain) ditingkatkan dan pewarna, kerajinan mereka telah berevolusi dan menggemakan ritme pasar yang dinamis.

Selanjutnya untuk memperkuat strategi pemasaran, kelompok dengan cara mengambil dana dari tabungan desa, yang pada akhirnya membuat batik Kaputren menjadi lambang budaya Kabupaten Malang. Dalam jangka waktu dua tahun, para pengrajin batik yang awalnya berdiam diri kini hidup kembali.

Batik Kaputren tidak hanya menjadi sumber pendapatan, melainkan juga menjadi pelindung warisan budaya Malang dan perjanjian kekuasaan sebuah komunitas yang telah bersatu.

Dengan semangat kolaborasi, menggabungkan usaha dengan kelompok batik lain, berbagi pengerjaan pesanan skala besar dan membentuk ikatan sepanjang masai. Pemasaran menjadi seni yang telah mereka kuasai, baik secara daring maupun luring.

Kini pegawai administrasi desa mengenakan seragam dari batik Kaputren, sekolahan merangkul batik mereka bagi muridnya, bahkan acara nasional termegah memamerkan kreasi mereka yang sangat indah. Media sosial, khususnya akun media sosial pemerintah Desa Sengguruh, membawa pusaka tersebut semakin jauh dan luas, dan mengumpulkan semakin banyak pesanan. Seni batik tak hanya terlihat pada hasil karya akan tetapi juga pada kemasan batik yang ada. Setiap batik merupakan karya seni yang terbungkus di sebuah tabung manis di dalam suatu tas bingkisan, dihiasi dengan informasi produk.@

App/fd/timEGINDO.com

Scroll to Top