IHSG Diperkirakan Bangkit pada Akhir Pekan, Pasar Masih Dibayangi Tekanan Asing

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mampu bangkit pada perdagangan Jumat (26/9/2025) setelah sehari sebelumnya tertekan cukup dalam. Pada Kamis (25/9), IHSG ditutup melemah 1,06 persen ke posisi 8.040,66, disertai aksi jual bersih asing senilai Rp879 miliar.

Saham-saham yang paling banyak dilepas asing meliputi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Koreksi terdalam dialami BRPT yang anjlok 6,9 persen menjadi Rp3.510, sedangkan BBRI turun 2,4 persen menjadi Rp4.070.

“Secara teknikal, peluang rebound terbuka dengan area support di kisaran 7.970–8.000 dan resistansi di 8.060–8.100,” jelas Head of Retail Research, Fanny Suherman.

Namun, Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengingatkan bahwa pergerakan pasar saat ini cenderung spekulatif. “IHSG tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental. Sepanjang 2025, saham-saham konglomerasi besar sangat berperan dalam mencetak rekor IHSG, sementara investor asing terus melakukan net sell pada saham-saham utama seperti BBCA dan BMRI,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan ekonomi dengan dukungan instrumen moneter Bank Indonesia memang memberikan stimulus positif. Meski demikian, langkah itu berpotensi memicu risiko berupa lonjakan inflasi, tekanan pada rupiah, hingga pelebaran defisit fiskal dan transaksi berjalan.

Dari eksternal, bursa Wall Street mencatat pelemahan tiga hari beruntun. Kejatuhan harga saham Oracle serta kenaikan imbal hasil obligasi AS menjadi faktor utama. Kondisi tersebut merembet ke bursa Asia-Pasifik yang bergerak variatif pada Kamis (25/9). Investor global masih melakukan aksi jual pada saham teknologi seperti Nvidia dan Oracle.

Menurut data Bloomberg, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam sebulan terakhir, sehingga mempersempit ruang bagi aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi lain, CNBC Indonesia melaporkan rupiah ditutup melemah tipis ke Rp16.230 per dolar AS, mempertegas kekhawatiran atas potensi keluarnya dana asing dari pasar domestik.

Sumber: rri.co.id/Sn

Scroll to Top