Jakarta|EGINDO.co Harga emas mengalami pelemahan tipis pada perdagangan Selasa (23/9/2025) setelah sehari sebelumnya membukukan rekor penutupan tertinggi di level US$3.747 per troy ounce. Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot melemah 0,04% menjadi US$3.744,89 per troy ounce pada pukul 12.01 WIB. Sementara itu, kontrak berjangka emas Comex turun 0,02% ke posisi US$3.740 per troy ounce.
Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai tren penguatan emas masih dominan dari sisi teknikal. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan potensi lanjutan tren naik. “Jika momentum bullish berlanjut, emas berpotensi menembus hingga US$3.775 dalam jangka pendek. Namun, koreksi juga perlu diwaspadai, dengan US$3.712 sebagai level support terdekat,” jelasnya dalam riset.
Optimisme investor terhadap emas meningkat usai bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memangkas suku bunga acuan 25 basis poin pada pekan lalu. Kebijakan ini dipandang memperkecil biaya peluang dalam memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Gubernur The Fed Stephen Miran bahkan menilai pemangkasan 25 bps masih terlalu konservatif dan menyarankan penurunan hingga 50 bps untuk menghadapi risiko ekonomi yang kian besar. Harapan akan adanya pemangkasan lanjutan di akhir tahun mendorong keyakinan bahwa kebijakan moneter longgar akan terus menopang harga emas.
Selain faktor moneter, ketegangan geopolitik juga memberi dorongan tambahan. Reuters melaporkan pasukan Rusia telah menguasai pemukiman Kalynivske di wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina, yang kembali memicu keresahan global. Analis Senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menilai aliran dana ke aset safe haven masih solid di tengah ketidakpastian geopolitik dan sinyal dovish The Fed.
Di sisi lain, Bloomberg melaporkan pasar tengah menantikan pernyataan penting dari sejumlah pejabat The Fed pekan ini, termasuk Ketua Jerome Powell pada Selasa malam (23/9). Komentar yang bernada hawkish berpotensi mengangkat dolar AS dan menekan harga emas dalam jangka pendek, sedangkan pernyataan dovish akan memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan lebih lanjut.
Dengan kombinasi kebijakan moneter longgar, ketegangan geopolitik, serta sinyal teknikal yang positif, prospek emas dalam jangka pendek tetap kuat. Meski demikian, pelaku pasar disarankan tetap mencermati volatilitas yang berpotensi meningkat menjelang pidato Powell.
Sumber: Bisnis.com/Sn