Jakarta|EGINDO.co Rupiah kembali menunjukkan penguatan tipis terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari Selasa, menempel di kisaran Rp 16.600 per dolar. Pada pembukaan pagi ini, rupiah naik sekitar 0,05 persen menjadi Rp 16.602 per dolar AS. Sebelumnya, di penutupan perdagangan hari Senin, rupiah sempat melemah sedikit sekitar 0,06 persen ke posisi Rp 16.612 per dolar.
Sementara itu, indeks dolar AS terkoreksi dari level 97,64 menjadi 97,22 pagi ini. Ekonom dari Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyebut bahwa pelemahan rupiah di awal pekan ini masih berkaitan erat dengan melemahnya mata uang beberapa negara maju selama beberapa hari terakhir. Contohnya, euro dan poundsterling telah terkoreksi secara akumulatif sekitar 1 persen dan 1,3 persen masing-masing selama tiga hari terakhir.
Di samping faktor eksternal, terdapat juga tekanan dari dalam negeri. Menurut analis pasar uang Ibrahim Assuaibi, pernyataan-pernyataan bernuansa politis oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dianggap mengganggu kepercayaan pelaku pasar. “Seharusnya Menteri Keuangan fokus menawarkan solusi keuangan yang pragmatis, bukan pernyataan politis, karena hal tersebut dirasa merugikan kepercayaan investor,” ujar Ibrahim.
Ibrahim memperkirakan bahwa rupiah hari ini kemungkinan akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup dengan pelemahan, dengan kisaran perdagangan antara Rp 16.600 sampai Rp 16.650 per dolar AS.
Dari sisi luar negeri, ketidakpastian geopolitik serta ekspektasi bahwa The Federal Reserve masih akan memangkas suku bunga pada Oktober mendatang turut menyumbang sentimen yang membayangi pergerakan rupiah.
Menurut laporan Bisnis Indonesia, rupiah pada Selasa pagi dibuka menguat ke sekitar Rp 16.605 per dolar AS. Laporan tersebut menyebut bahwa pasar juga memperhatikan kemungkinan langkah The Fed serta data-ekonomi global yang bisa mempengaruhi kepercayaan pasar ke aset di negara berkembang.
Meskipun rupiah menguat pagi ini, kondisi masih dianggap sangat rentan terhadap tekanan eksternal, terutama dari dolar AS dan kebijakan moneter global, serta faktor internal seperti pernyataan pejabat yang dinilai memicu ketidakpastian di mata investor.
Sumber: rri.co.id/Sn