Thailand-Kamboja Sepakat Patuhi Hukum Internasional Soal Tawanan Usai Perundingan di KL

Thailand-Kamboja Sepakat Patuhi Hukum Internasional
Thailand-Kamboja Sepakat Patuhi Hukum Internasional

Kuala Lumpur | EGINDO.co – Thailand dan Kamboja sepakat untuk mematuhi hukum humaniter internasional dalam memperlakukan tentara masing-masing yang ditawan, dan akan memfasilitasi “pemulangan yang bermartabat dan tepat waktu” bagi para korban tewas.

Kedua negara Asia Tenggara, yang menyepakati gencatan senjata pada 28 Juli dalam sengketa perbatasan mereka, bertemu di Kuala Lumpur pada Kamis (7 Agustus) untuk menghadiri pertemuan umum luar biasa komite perbatasan.

Kedua belah pihak juga sepakat bahwa jika terjadi konflik bersenjata, baik disengaja maupun tidak disengaja, mereka akan segera berkonsultasi di tingkat lokal melalui mekanisme bilateral yang ada untuk mencegah eskalasi situasi di sepanjang perbatasan.

Dalam pernyataan bersama, Thailand dan Kamboja menyatakan bahwa pertemuan tersebut “diadakan dalam suasana yang konstruktif dan positif, yang menghasilkan hasil yang bermakna”.

“Kedua belah pihak menegaskan kembali komitmen teguh mereka terhadap implementasi penuh dan efektif dari ketentuan gencatan senjata yang disepakati.”

Pertemuan tersebut dipimpin bersama oleh Wakil Perdana Menteri Kamboja sekaligus Menteri Pertahanan Nasional, Jenderal Tea Seiha, dan Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Thailand, Jenderal (Purn.) Nattaphon Narkphanit.

Menteri Dalam Negeri Malaysia Saifuddin Nasution meninjau pertemuan tersebut bersama perwakilan dari Amerika Serikat dan Tiongkok.

Delapan belas tentara Kamboja masih ditahan oleh Angkatan Darat Kerajaan Thailand hingga Senin (4 Agustus). Thailand telah memulangkan dua tentara Kamboja yang terluka pada 1 Agustus.

Jumlah tentara Thailand yang ditangkap oleh Kamboja belum diketahui.

Pada hari Kamis, kedua negara juga sepakat untuk mengizinkan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) bertindak sebagai pengamat gencatan senjata, ujar Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Thailand Nattaphon.

Menunggu terbentuknya tim pengamat ASEAN yang dipimpin oleh Malaysia sebagaimana disepakati pada 28 Juli, tim sementara yang terdiri dari atase pertahanan negara-negara anggota ASEAN yang terakreditasi untuk Kamboja atau Thailand akan dibentuk secara terpisah di masing-masing negara.

Setelah pertempuran selama lima hari bulan lalu yang mengakibatkan sedikitnya 38 orang tewas dan lebih dari 300.000 orang mengungsi di kedua belah pihak, kedua negara sepakat untuk menghentikan konflik paling mematikan dalam lebih dari satu dekade, dengan gencatan senjata yang berlangsung pada tengah malam tanggal 29 Juli.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top