Kathmandu | EGINDO.co – Setidaknya 63 orang hilang di Nepal pada hari Jumat (12 Juli) setelah tanah longsor yang dipicu oleh hujan lebat musim hujan menyapu dua bus dari jalan raya dan masuk ke sungai, kata pihak berwenang.
Puluhan personel pencarian dan penyelamatan menyisir lokasi untuk mencari korban selamat dari kecelakaan di distrik pusat Chitwan, kata pejabat distrik Khimananda Bhusal kepada AFP.
Bhusal mengatakan bahwa bus-bus itu membawa sedikitnya 66 orang, tetapi tiga penumpang berhasil melarikan diri sebelum jatuh ke sungai Trishuli dan sekarang dirawat di rumah sakit.
“Kami tidak yakin jumlah totalnya karena bus-bus itu bisa saja mengangkut penumpang lain di jalan,” katanya.
“Sungai meluap dan belum ada orang lain yang ditemukan.”
Kecelakaan itu terjadi di sepanjang jalan raya Narayanghat-Mugling, sekitar 100 km sebelah barat ibu kota Kathmandu pada Jumat dini hari pukul 3.30 pagi waktu setempat (5.45 pagi waktu Singapura).
Satu bus sedang dalam perjalanan dari ibu kota Kathmandu menuju Gaur di distrik Rautahat di Nepal selatan dan bus lainnya sedang dalam perjalanan menuju Kathmandu dari Birgunj selatan.
Seorang pengemudi tewas dalam kecelakaan terpisah di jalan yang sama setelah sebuah batu besar menghantam busnya. Ia meninggal saat dirawat di rumah sakit.
Perdana Menteri Pushpa Kamal Dahal menyampaikan kesedihan atas kecelakaan tersebut dalam sebuah unggahan di platform media sosial X.
“Saya mengarahkan semua lembaga pemerintah, termasuk administrasi dalam negeri, untuk mencari dan menyelamatkan penumpang secara efektif,” katanya.
Kecelakaan mematikan sering terjadi di republik Himalaya tersebut karena jalan yang dibangun dengan buruk, kendaraan yang tidak dirawat dengan baik, dan pengemudian yang ugal-ugalan.
Hampir 2.400 orang kehilangan nyawa di jalan-jalan Nepal dalam 12 bulan hingga April, menurut data pemerintah.
Dua belas orang tewas dan 24 orang terluka dalam sebuah kecelakaan pada bulan Januari ketika sebuah bus yang menuju Kathmandu dari Nepalgunj jatuh ke sungai.
Perjalanan darat menjadi lebih mematikan selama musim hujan tahunan karena hujan memicu tanah longsor dan banjir di seluruh republik pegunungan tersebut.
Hujan musim hujan di seluruh Asia Selatan dari bulan Juni hingga September menawarkan kelegaan dari panasnya musim panas dan sangat penting untuk mengisi kembali persediaan air, tetapi juga membawa kematian dan kehancuran yang meluas.
Curah hujan sulit diramalkan dan sangat bervariasi, tetapi para ilmuwan mengatakan perubahan iklim membuat musim hujan semakin kuat dan tidak menentu.
Banjir, tanah longsor, dan sambaran petir telah menewaskan 88 orang di seluruh negeri sejak musim hujan dimulai pada bulan Juni, menurut data kepolisian.
Sumber : CNA/SL