Mengure Lawik, Pincalang Kearifan Lokal Untuk Laut Biru

Fadmin Malau
Fadmin Malau

Oleh: Fadmin Malau

HIDUP di tepi laut, Samudera Indonesia di pantai barat pulau Sumatera, Kabupaten Tapanuli Tengah dan kota Sibolga penduduknya hidup sebagai nelayan. Indonesia adalah negara kepulauan memiliki tepi pantai yang sangat luas.

Namun, hidup sebagai nelayan semakin susah karena hasil tangkapan ikan terus berkurang, sulit menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Ketika melaut ikan yang didapat hanya bisa mengembalikan modal membeli solar, perawatan perahu, jaring dan lainnya.

Kini semakin sulit ketika Bahan Bakar Minyak (BBM) semakin mahal. Hal itu diakui Syawal Pasaribu (56) di Desa Sitiris tiris Kecamatan Andam Dewi Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara.

Wajah lesu para nelayan terlihat ketika merapat ke tepi pantai yang indah sudah menjadi pemandangan biasa. Dulu, wajah para nelayan selalu ceria ketika merapat ke pantai. Hasil tangkapan ikan banyak. Para nelayan ceria, masyarakat di tepi pantai ceria sebab dapat menikmati ikan segar gratis bila hanya untuk keperluan dimakan.

Kini, pemandangan itu tidak ada lagi. Mungkin alam tidak bersahabat lagi dengan alam. Buktinya, dahulu tahun 1970-an masih sangat bersahabat dengan alam. Melihat bintang bersinar di langit biru pada malam hari dengan mata telanjang sudah mengetahui lokasi ikan yang banyak. Tidak butuh komputer seperti sekarang ini untuk mengetahuinya.

Hanya dengan merasakan arah angin dan melihat gelombang laut, para nelayan sudah mengetahui diposisi laut mana bakal datang badai. Tidak butuh kompas karena alam begitu bersahabat dengan nelayan.

“Melihat posisi bintang di langit pada malam hari, bisa mengetahui posisi ikan di laut dan ikan selalu banyak didapat,” kata almarhum kakek penulis sewaktu penulis masih kanak-kanak dan memang kakek selalu membawa ikan yang banyak ketika merapat ke tepi pantai.

Kini, alam tidak lagi bersahabat dengan nelayan. Alam sudah tidak menentu, berubah-ubah dalam waktu singkat dan ikan-ikan sulit ditangkap. Cuara ekstrem terus terjadi, badai tropis mengakibatkan gelombang tinggi sehingga ikan-ikan menjadi langka dan para nelayan tidak berdaya.

Benarkah alam tidak mau bersahabat lagi? Sesungguhnya alam ingin selalu bersahabat dengan manusia, tetapi manusia yang tidak memelihara alam. Manusia adalah pemimpin alam. Namun, manusia salah memimpin alam maka terjadi kerusakan alam dan manusia menyalahkan alam tidak mau bersahabat lagi.

Kondisi laut Indonesia memprihatinkan, kerusakan terumbu karang banyak terjadi di perairan Indonesia. Ekosistem laut terganggu, makhluk hidup laut terancam punah termasuk ikan yang merupakan kebutuhan hidup manusia.

Tradisi Budaya Nelayan

Mangure Lawik, merupakan tradisi budaya nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga. Mangure Lawik dilaksanakan untuk mewujudkan rasa syukur dan mendoakan agar hasil tangkapan ikan banyak, terhindar dari bala dan laut lestari serta sebagai sarana kebersamaan sesama nelayan.

Mangure Lawik juga disebut upacara jamu laut yang kini tradisi ini sudah mulai punah. Upacara Mangure Lawik ditandai dengan menyembelih seekor kerbau yang dagingnya dimasak untuk dimakan bersama-sama semua masyarakat. Sedangkan kepala kerbau dilarung ke tengah laut.

Kata kakek penulis, kepala kerbau itu menjadi kurban persembahan agar laut bersahabat dengan nelayan. Tradisi budaya ini sudah ada ratusan tahun lalu. Satu tradisi budaya yang dilakukan turun temurun meskipun sulit untuk membuktikan kebenarannya.

Namun, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011 terdapat 30,02 juta jiwa penduduk miskin, dari jumlah itu sebanyak 7,87 juta orang atau 25,14% adalah nelayan sebagai penduduk miskin nasional dengan kreteria menggunakan armada perahu di bawah 5 gross ton (GT). Nelayan tradisional melaut sejak subuh sampai pagi hari dan siang sampai petang, rata-rata berpenghasilan Rp 50.000,- paling maksimal Rp. 100.000, – per hari. Hasil tangkapan ikan terus berkurang akan tetapi jumlah nelayan terus bertambah karena tidak ada pilihan pekerjaan lain penduduk di daerah pantai.

Cerita Pincalang

Ada yang cerita menarik dahulunya di Kabupaten Tapanuli Tengah dan kota Sibolga yakni adanya kaum Pincalang. Sesungguhnya kaum Pincalang hanya sebuah sebutan bagi orang-orang yang hidup di atas perahu.

Pincalang sebutan lain dari perahu kecil yang berlayar hanya mengandalkan hembusan angin, tanpa mesin kapal, tanpa kompas, tanpa komputer tetapi orang-orang pincalang itu sangat mahir membaca tanda-tanda alam.

Sama halnya dengan kakek penulis seorang nelayan tradisional yang paham dan mahir membaca tanda-tanda alam sehingga dengan melihat bentuk gelombang laut mengetahui pada posisi mana badai sedang melanda. Hanya dengan melihat rasi bintang di langit pada malam hari mengetahui pada posisi mana ikan-ikan sedang berkumpul.

Semua tanda-tanda alam itu baru ada apa bila ekosistem laut terjaga dengan baik. Sama saja dengan teknologi canggih, baru akan berguna bila semua perangkat pendukungnya ada dan bekerja dengan baik, minimal pada posisi standar.

Tradisi budaya Mangure Lawik satu tradisi budaya yang mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem laut beserta biota-biotanya sehingga laut menjadi lestari. Laut akan lestari bila tidak terjadi proses pengrusakan ekosistem laut.

Kaum pincalang melawan semua pengrusak biota-biota laut karena laut yang rusak tidak bisa lagi memberikan tanda-tanda kepada manusia. Rusaknya ekosistem laut membuat alam tidak lagi bersahabat dengan manusia.

Kaum pincalang yang bersahabat dengan laut selalu melawan orang-orang yang merusak laut. Kini kaum Pincalang dan perahu yang mengandalkan layar dengan bantuan hembusan angin sudah tidak ada lagi dan begitu juga dengan kaum Pincalang sudah punah.

Para nelayan di pantai barat pulau Sumatera Utara sudah tidak bersahabat lagi dengan laut. Tradisi budaya nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga, Mangure Lawik sebagai wujud rasa syukur dari hasil tangkapan ikan yang banyak, karena sudah terhindar dari bala dan sebagai sarana kebersamaan sesama nelayan sudah jarang dilakukan. Kini yang muncul cuaca ekstrim akibat dari kearifan lokal masyarakat yang sudah hilang dan kaum Pincalang sebagai masyarakat juga sudah punah.

Sebaiknya semangat kaum Pincalang dikembalikan lagi, direvitalisasi semangatnya dengan teknologi perikanan yang ada sekarang ini. Semangat kaum Pincalang menjaga laut agar tetap biru, tentu dengan tidak mencemari laut dengan sampah, mencemari dengan air limbah industri dan lainnya. Semoga.@

***

Scroll to Top