Oleh: Fadmin Malau
Presiden Indonesia, Ir. Joko Widodo (Jokowi) dalam banyak kesempatan selalu memberi hadiah sepeda. Mengapa hadiahnya sepeda? Ada filosofi yang terkandung pada sepeda.
Sepeda kenderaan roda dua tanpa mesin itu kini mulai langka digunakan sebagai alat transportasi. Sepeda dalam Bahasa Inggris adalah Bicycle. Sepeda kendaraan beroda dua yang mempunyai setang atau alat kendali, tempat duduk dan sepasang pengayuh yang digerakkan kaki untuk menjalankannya.
Sesungguhnya sepeda memiliki filosofi yang melambangkan kehidupan manusia. Hidup bisa terus berjalan dengan baik jika kita menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Filosofi sepeda ini dilakoni Eka Tjipta Widjaja seorang pengusaha lintas lima masa yakni masa penjajahan Jepang, masa Kemerdekaan, masa Orde Lama, masa Orde Baru dan masa reformasi.
Filosofi sepeda melambangkan kehidupan manusia. Pasalnya, ketika kita belajar menaiki sepeda, hal yang pertama dilakukan menyeimbangkan tubuh dengan sepeda. Perlu semangat pantang menyerah untuk melakukannya, sebab begitu pertama belajar menaiki sepeda pasti terjatuh. Begitu terjatuh dan berhenti mencoba lagi menaiki sepeda maka kita tidak akan bisa menaiki sepeda. Harus terus, terus dan terus mencobanya, jangan menyerah.
Sepeda bagi sang Founding Father, Eka Tjipta Widjaja tidak bisa dipisahkan dalam hidupnya, sepeda menjadi saksi perjuangan dalam menjalankan bisnisnya. Eka Tjipta Widjaja gigih membantu orangtuanya berjualan di Kota Makassar dengan berjualan permen, kue dan berbagai barang yang ada di toko orangtuanya dengan cara bersepeda berkeliling Kota Makassar. Tidak ada kata menyerah, pantang menyerah bagi Eka Tjipta Widjaja, terus berusaha mendapatkan pemasok kembang gula dan biskuit. Dengan bersepeda menembus kondisi alam yang ada, jalan rusak harus dilalui dengan bersepeda.
Meski Eka Tjipta Widjaja masih berumur 9 tahun tetapi pemikiran bisnisnya jauh kedepan. Orang lain belum terpikir akan tetapi Eka Tjipta Widjaja telah menciptakannya, telah membuka peluang bisnis yang belum orang lain lakukan. Eka Tjipta Widjaja diminta orangtuanya menjaga toko di kampungnya, Makassar. Apa yang terjadi dengan toko yang dijaga Eka Tjipta Widjaja? Toko itu sepi pembeli, seharian Eka Tjipta Widjaja menjaga toko, menanti pembeli datang akan tetapi yang datang membeli hanya hitungan jari tangan, paling banyak hanya 5 orang.
Eka Tjipta Widjaja tidak menyerah dengan keadaan, tidak menerima toko yang sepi pembeli. Bila toko terus sepi pembeli maka akan sulit mendapatkan keuntungan sementara harus membayar utang orangtuanya kepada rentenir.
Eka Tjipta Widjaja menemukan gagasan dan gagasan itu disampaikannya kepada orangtuanya. Sebuah ide kreatif untuk berdagang dengan mendatangi pembeli, bukan menanti pembeli datang. Eka Tjipta Widjaja mengusulkan kepada orangtuanya untuk mendatangi pelanggan dengan membawa dan menawarkan barang dagangan. Eka Tjipta Widjaja siap membawa dan menawarkan barang dagangan langsung kepada calon pembeli dengan bersepeda.
Akhirnya pada saat 100 Tahun Eka Tjipta Widjaja, logonya menyerupai roda sepeda yang dikayuh oleh Eka Tjipta Widjaja ketika memulai bisnisnya. Filosofi sepeda dengan dua roda berputar secara terus menerus melambangkan nilai dan prinsip pantang menyerah yang diwariskan bagi keluarga besar Sinar Mas.
Begitulah kehidupan seperti sepeda, berjalan dengan keseimbangan yang artinya menyeimbangkan hidup dan harus terus bergerak. Bila berhenti maka kita jatuh dari sepeda. Semua manusia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maka dengan terus bergerak seperti sepeda maka memberi kita kekuatan untuk terus menjalani kehidupan yang sebenarnya.
Semangat pantang menyerah dan sifat sosial itu diwariskan Eka Tjipta Widjaja yang menjadikan Sinar Mas terus bersinar dengan perjalanan bangsa Indonesia yang kini berusia 77 tahun. Bersinar dari sebuah usaha kecil pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, kini masa reformasi Sinar Mas menjadi perusahaan nasional yang menghidupi 380.000 orang karyawan beserta anak isteri di bumi Indonesia tercinta.
Sinar Mas dengan tujuh pilar usaha tersebar berbagai industri di Indonesia menjadi inspirasi dan energy kuat buat bangsa Indonesia. Kini Sinar Mas sebagai brand telah bertransformasi dengan tujuh pilar utama bisnis yakni Pulp dan Kertas, Agribisnis dan Pangan, Layanan Keuangan, Pengembang dan Realestate, Telekomunikasi, Energi dan Infrastruktur serta Layanan Kesehatan.
Semua pilar bisnis dikelola secara independen dengan menjadikan inspirasi dan energy kuat sesuai dengan warna merah logo Corporate Identity Sinar Mas perusahaan sejak tahun 1938 dibangun Eka Tjipta Widjaja dimana warna merah membawa kesan semangat dan energy yang membara terus harus diimplementasikan oleh para penerus Sinar Mas pada masa mendatang.
Eka Tjipta Widjaja lahir dengan nama Oei Ek Tjhong pada 27 Februari 1921 di Quanzhou, Provinsi Fujian. Tiongkok. Orangtuanya seorang pedagang di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pendidikan terakhir Eka Tjipta Widjaja lulusan sekolah dasar di Makassar, tidak melanjutkan sekolahnya karena harus membantu orangtuanya berdagang untuk melunasi utang kepada rentenir sebagai modal datang ke Indonesia.
Kunci sukses Eka Tjipta Widjaja didasari dari semangat pantang menyerah, berpedoman kepada nilai-nilai luhur, integritas, perilaku positif, berkomitmen, perbaikan berkelanjutan, inovatif dan loyal serta setia dalam menjalankan praktek bisnis berkelanjutan.
Sikap dan perilaku Eka Tjipta Widjaja itu membuat perusahaannya tumbuh dan berkembang seiring dengan itu Eka Tjipta Widjaja turut membangun Indonesia pada bidang perekonomian, sosial dan lingkungan hidup. Semangat pantang menyerah Eka Tjipta Widjaja tidak pernah padam, terbukti ketika menapaki usia 83 tahun tetap bersemangat sehingga pada usia 83 tahun Eka Tjipta Widjaja mewujudkan tujuh pilar bisnisnya dengan berbagai sektor ekonomi Indonesia dan 11 perusahaannya termasuk go public di Indonesia.
Kehadiran Sinar Mas memberikan kontribusi besar bagi roda perekonomian bangsa Indonesia untuk bangkit dalam mengisi pembangunan Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Hal itu seiring dengan semangat pantang menyerah dan sifat sosial diwariskan oleh sang Founding Father, Eka Tjipta Widjaja, menjadikan Sinar Mas terus berkontribusi sejalan beriringan dengan pembangunan bangsa Indonesia.
Perjalanan bisnis Eka Tjipta Widjaja penuh lika-liku, sering menemui jalan buntu, kegagalan, kesulitan akan tetapi bisa diatasi dengan semangat pantang menyerah untuk bangkit kembali dan berusaha. Kerja keras dan memegang teguh disiplin adalah hidup Eka Tjipta Widjaja yang membuat Sinar Mas hari ini bersinar cemerlang. “Saya tidak boleh patah semangat!” demikian salah satu ucapan Eka Tjipta Widjaja yang menjadi inspirasi bagi seluruh keluarga besar Sinar Mas.
Bisnis Eka Tjipta Widjaja penuh lika-liku, sering menemui jalan buntu, kegagalan seperti kala berbisnis Kopra mengalami kebangkrutan disebabkan peraturan pemerintah yang menurunkan harga Kopra. Sementara itu uangnya telah habis untuk membeli Kopra di Pulau Selayar. Kala itu Kopra yang dibeli Eka Tjipta Widjaja masih di kapal, muncul pengumuman pemerintah yang disiarkan radio yang memberitakan pemerintah menurunkan harga Kopra yang harganya lebih murah dari yang telah dibeli Eka Tjipta Widjaja dari para petani. Eka Tjipta Widjaja rugi besar dan kala itu hartanya tinggal rumah dan mobil Cadillac.
Lagi lagi Eka Tjipta Widjaja pantang menyerah dengan keadaan yang dialaminya. Rumah dan mobil Cadillac yang tinggal miliknya dijual untuk mendapatkan uang. Mengapa harus menjual rumah dan mobil Cadillac? Hal itu karena Eka Tjipta Widjaja harus membayar utang kepada temannya yang dipinjam ketika berdagang Kopra.
Sulit ditemukan orang seperti Eka Tjipta Widjaja sebab dalam kondisi bisnis rugi akan tetapi tetap berkomitmen untuk membayar utang. Prinsip hidup yang berpedoman kepada nilai-nilai luhur, integritas, perilaku positif, loyal dan setia dalam menjalankan bisnis dilakukan Eka Tjipta Widjaja.
Bisa saja Eka Tjipta Widjaja tidak mau membayar utang kepada temannya sebab temannya juga mengetahui bahwa Eka Tjipta Widjaja rugi berbisnis Kopra disebabkan adanya peraturan pemerintah yang menurunkan harga Kopra dibawah harga Kopra yang telah dibeli Eka Tjipta Widjaja dari para petani.
Namun, didasari semangat pantang menyerah, berpedoman kepada nilai-nilai luhur, integritas dan berkomitmen dari uang hasil penjualan rumah dan mobil Cadillac hanya cukup untuk membayar utang kepada teman yang uangnya dipinjam. Eka Tjipta Widjaja tidak mau lari dari tanggungjawab, uang dari hasil menjual rumah dan mobil Cadillac itu diberikan kepada teman untuk membayar utang dan uangnya habis.
Lalu apa yang terjadi? Berkat komitmen dan berpedoman kepada nilai-nilai luhur, utang harus dibayar maka teman-temannya yang meminjamkan uang tetap percaya. Akhirnya Eka Tjipta Widjaja dipercaya temannya untuk dipinjamkan uang lagi sebagai modal usaha. Eka Tjipta Widjaja menjadi seorang memiliki Personal Guarantee bisnismen yang baiknya.
Sikap Personal Guarantee bisnismen yang dimiliki Eka Tjipta Widjaja membuat semua pihak dari dalam dan luar negeri selalu percaya kepadanya dan mau bekerjasama dengannya karena dalam kondisi perusahaan rugi saja Eka Tjipta Widjaja tetap berkomitmen membayar utang. Sudah pasti ketika perusahaan untung maka Eka Tjipta Widjaja bukan saja membayar utangnya akan tetapi akan membagi keuntungannya.
Awal karir bisnis sang Founding Father Sinar Mas tahun 1938 di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Oei Ek Tjhong atau Eka Tjipta Widjaja merintis usaha dengan menjajakan barang kelontong menggunakan sepeda. Setelah membuka toko kelontong grosir tahun 1949, kemudian Eka Tjipta Widjaja mulai berbisnis Kopra. Namun, gagal menjalankan bisnis Kopra, Eka Tjipta Widjaja hijrah atau pindah ke Surabaya.
Ketika di Surabaya, mendirikan CV Sinar Mas dan Eka Tjipta Widjaja lewat CV. Sinar Mas melahirkan pabrik minyak goreng, pabrik kertas dan bubur kertas serta bisnis lainnya. Eka Tjipta Widjaja selalu memilih bisnis yang komoditinya dibutuhkan banyak orang seperti minyak goreng dan lainnya.
Ketika krisis ekonomi tahun 1998 melanda Indonesia, Sinar Mas mulai beroperasi secara komersial pada bidang penyediaan energi, perdagangan besar, infrastruktur dan telekomunikasi. Kemudian tahun 2014 Sinar Mas menjajaki ranah digital melalui Sinar Mas Digital Venture dan bidang kesehatan yakni Eka Hospital dan membentuk organisasi kemanusiaan yakni Yayasan Dharma Eka Tjipta serta pendidikan yakni Sinar Mas World Academy.
Perjalanan karier Eka Tjipta Widjaja sejak berusia 15 tahun yakni tahun 1938, Eka Tjipta Widjaja menjadi wirausaha di Makassar. Tahun 1968, Eka Tjipta Widjaja mendirikan kilang minyak goreng kopra yakni Bitung Manado Oil Ltd. di Sulawesi Utara. Tahun 1972, Eka Tjipta Widjaja paprika soda kimia yakni Tjiwi Kimia yang menjadi pabrik kertas Sinar Mas. Tahun 1986 Eka Tjipta Widjaja mendirikan Sinar Mas Forestry yang mengelola Hutan Tanaman Industry (HTI), kemudian tahun 1996 berdiri PT Dian Swastika Sentosa sebagai fasilitas listrik buat pabrik APP. Tahun 2005, Eka Tjipta Widjaja mengakuisisi Bank Shinta dan resmi menjadi Bank Sinarmas. Tahun 2006 berdiri PT Smart Telecom dan tahun 2020 Sinar Mas berhasil memiliki tujuh pilar bisnis.
Perjalanan bisnis Sinar Mas berkat semangat pantang menyerah Eka Tjipta Widjaja yang menjadi inspirasi bagi para penerusnya dalam menghadapi situasi sesulit apapun. Semangat pantang menyerah satu filosofi berharga dari pendiri Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja.
Kini Sinar Mas mengangkat “Pantang Menyerah” sebagai tema besar sepanjang tahun 2022, sekaligus untuk memperingati 100 Tahun Eka Tjipta Widjaja. Filosofi pantang menyerah ada dalam logo resmi dan rangkaian kegiatan yang diadakan tujuh pilar usaha Sinar Mas. Eka Tjipta Widjaja berhasil menjadi terkaya kedua di Indonesia berdasarkan penghitungan Globe Asia dengan aset yang dimiliki sebesar US$ 13,9 miliar atau Rp 201,5 triliun pada tahun 2018 lalu.
Eka Tjipta Widjaja seorang konglomerat terbesar pada masa Orde Baru, pendiri Sinar Mas Group, berkebangsaan Indonesia lahir 27 Februari 1921 dan meninggal dunia pada Sabtu, 26 Januari 2019 pukul 19.43 WIB dalam usia 98 tahun serta dimakamkan di pemakaman keluarga Desa Marga Mulya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat setelah sebelumnya disemayamkan di rumah duka Jalan Gatot Subroto Jakarta.
Selamat jalan Eka Tjipta Widjaja yang telah menginspirasi generasi penerus bangsa dalam berbisnis dan berkontribusi dalam pembangunan perekonomian bangsa Indonesia.@
***
Tulisan ini diikutsertakan pada Journalist Writing Competition, 100 tahun Eka Tjipta Widjaja Membangun Sinar Mas untuk Indonesia.