Dr. Rusli Tan: Melestarikan Borobudur Bukan Menaikkan Tarif

Dr. Rusli Tan, SH, MM
Pengamat ekonomi, sosial masyarakat, Dr. Rusli Tan, SH, MM

Jakarta | EGINDO.co – Melestarikan Candi Borobudur bukan dengan menaikkan tarif masuk dengan begitu tinggi akan tetapi melakukan manajemen yang baik dalam pemeliharaan Candi Borobudur sehingga kelestariannya terjaga.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Lembaga Keagamaan Buddha Indonesia (LKBI) Dr. Rusli Tan, SH, MM kepada EGINDO.co Rabu (8/6/2022) di Jakarta tentang Pemerintah menaikkan harga tiket masuk Candi Borobudur menjadi Rp750 ribu untuk turis lokal dan USD 100 untuk turis mancanegara.

Dikatakannya bila menaikkan tarif begitu tinggi sama dengan melarang orang untuk berkunjung ke Candi Borobudur dan itu tidak baik karena Candi Borobudur itu awalnya dibangun Raja Syalendra bukan untuk tempat wisata akan tetapi untuk tempat ritual agama Buddha.

Baca Juga :  Kemenperin: Keunggulan Produk Industri Berteknologi Tinggi

Candi Borobudur dibangun dengan arsitek yang luar biasa sehingga menjadi kekaguman banyak orang dan bahkan menjadi keajaiban dunia yang patut dilestarikan, dijaga dengan baik. Melestarikannya bukan menaikkan tarif yang mahal yang mana sama saja dengan melarang orang untuk datang.

Menurut Rusli Tan yang terbaik dimanajemen dengan teknologi, dengan pengawasan yang baik sehingga kelestarian Candi Borobudur terjaga dan semua orang bisa datang, bisa melihat Candi Borobudur. “Dalam agama Buddha tidak mengenal kasta, jadi semua orang boleh datang, boleh beribadah, bagaimana dengan umat Buddha yang ekonominya masih UMR, akan membuatnya sulit beribadah,” kata Rusli Tan khawatir karena UMP di Mageleng saja tidak sampai dua juta rupiah per bulan.

Baca Juga :  Dr. Rusli Tan: Beli Rokok Ketengan per Batang Bukti Daya Beli Masyarakat Rendah

Menurutnya sekarang juga Candi Borobudur belum begitu banyak pengunjung, tidak seperti tempat ibadah di luar negeri. “Dalam beribadah dijamin oleh UUD 1945 maka pemerintah harus mempertimbangkan, memikirkannya. Memang Candi Borobudur harus dilestarikan dengan baik akan tetapi bukan dengan cara menaikkan tarif sangat tinggi membuat orang yang ekonominya pas pasan tidak bisa berkunjung,” katanya.

Rusli Tan menyayangkan cara pemerintah mencari devisi. Pada hal banyak devisa yang diperoleh negara dari ekspor non-migas. “Tolong dipertimbangkan sebab disamping sebagai daerah tujuan wisatawan juga merupakan tempat ibadah,” katanya lagi mengingatkan.

Dimintakannya yang penting Candi Borobudur tetap lestari, terjaga keutuhannya dari leluhur untuk agama Buddha maka yang terbaik manajemen pemeliharaan dilakukan. Menteri Pariwisata dan Menteri Agama harusnya yang berbicara tentang Candi Borobudur agar tepat sasaran, bukan menteri yang bukan bidangnya.

Baca Juga :  Dr. Rusli Tan: Golden Visa Akan Bermanfaat Bila Tenaga Kerja Indonesia Andal

Rusli Tan yang juga seorang pengamat sosial, politik dan ekonomi kemasyarakatan mengatakan harusnya pemerintah menggiatkan kegiatan keagamaan dan pariwisata dengan menjaga kelestariannya dan bukan hanya menaikkan tarif masuk yang membuat banyak orang tidak sangguh dan sama saja dengan melarang orang untuk mendatangi tempat ibadah dan daerah tujuan wisata.@

Fd/TimEGINDO.co

 

Bagikan :
Scroll to Top