Jakarta | EGINDO.com – Sejak 1 Januari lalu, harga Bitcoin belum keluar dari zona US$ 45.000-US$ 47.000. Menurut analis, tahun 2022 akan menjadi tahun yang jauh lebih sulit buat Bitcoin.
Edward Moya, Analis Pasar Senior OANDA, mengatakan, dekorelasi mata uang kripto alternatif (altcoin) dengan Bitcoin bisa memberikan tekanan lebih lanjut pada harga BTC.
“Kasus bull tetap untuk Bitcoin, tetapi ini akan menjadi tahun yang jauh lebih sulit karena banyak pedagang juga akan fokus pada altcoin,” katanya, Rabu (5/1/2022) seperti dilansir CoinDesk.
Perusahaan data blockchain Glassnode mencatat, dengan sedikit pergerakan harga, pemegang jangka pendek Bitcooin menanggung sebagian besar kerugian, yang menciptakan peningkatan tekanan sisi jual.
Harga realisasi, metrik yang menilai setiap Bitcoin saat terakhir di blockchain, pemegang jangka pendek ada US$ 51.400 versus US$ 24.400 dan US$ 17.700 masing-masing untuk keseluruhan pasar dan pemegang jangka panjang.
“Pemegang Bitcoin jangka pendek secara agregat ada di bawah air pada investasi mereka, dan paling mungkin untuk menciptakan resistensi sisi jual,” tulis Glassnode dalam buletin yang terbit Senin (3/1/2022), seperti dikutip CoinDesk.
Meski begitu, dalam jangka panjang, Co-Head of Foreign Exchange Strategy Goldman Sachs Zach Pandl menyebutkan, Bitcoin bisa merebut pangsa pasar emas sebagai “produk sampingan”.
“Dengan lebih banyak adopsi (Bitcoin) bersama dengan potensi dari solusi penskalaan khusus Bitcoin,” sebutnya dalam sebuah catatan penelitian kepada klien yang terbit Selasa (4/1/2022), seperti CoinDesk kutip.
Goldman Sachs memperkirakan, saat ini publik di seluruh dunia memegang sekitar US$ 2,6 triliun emas untuk tujuan investasi, dengan asumsi harga emas US$ 1,800 per troy ounce.
Sementara kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini di bawah US$ 700 miliar.
Pandl menambahkan, itu menyiratkan mata uang kripto terbesar di dunia tersebut saat ini menguasai sekitar 20% pangsa pasar store value.
Sumber: Tribunnews/Sn