Pelindo Digabung, Pelindo 1 Implementasikan NLE

Pengemudi head truck melakukan tap kartu autogate system di TPK Belawan (Foto: Humas Pelindo)
Pengemudi head truck melakukan tap kartu autogate system di TPK Belawan (Foto: Humas Pelindo)

Medan | EGINDO.co – Awal Oktober tahun 2021 pemerintah akan menggabungkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pelabuhan yakni Pelabuhan Indonesia (Pelindo) 1, 2, 3, dan 4 akan berintegrasi menjadi satu Pelindo. Harapannya, dengan integrasi Pelindo itu akan mempercepat proses pengembangan Port Operation Command Center (POCC) di pelabuhan yang berada di bagian barat Indonesia disebabkan transfer knowledge dari pelabuhan yang sudah berhasil membangun POCC menjadi semakin mudah dan cepat.

Hal itu dikatakan Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis Pelindo 1, Joko Noerhudha dalam pernyataan tertulis Jum’at (10/9/2021) yang diterima EGINDO.co

Menurut Joko, Pelindo 1 sedang mengembangkan Port Operation Command Center untuk memudahkan implementasi NLE di pelabuhan. Dijelaskannya, POCC digunakan sebagai pusat kendali dan koordinasi pelayanan kapal dan terminal serta monitoring antrean kapal.

POCC bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dalam kegiatan kepelabuhanan demi kenyamanan pengguna jasa seiring semakin meningkatknya aktivitas kapal dan bongkar muat barang di sejumlah pelabuhan. “Saat ini kami sedang mengembangkan POCC yang bermanfaat untuk memaksimalkan ketepatan perencanaan, meningkatkan kinerja operasional, kecepatan dalam koordinasi dan pengambilan keputusan, serta memastikan tercapainya one day billing,” kata Joko.

Upaya memperkuat kelancaran logistik nasional katanya, Pelindo 1 terus mendorong implementasi National Logistic Ecosystem (NLE) di pelabuhan-pelabuhan besar yang dikelolanya, khususnya yang berada di wilayah Medan dan sekitarnya.

Dijelaskannya, untuk wilayah Sumatra Utara, tiga pelabuhan Pelindo 1 sudah melakukan implementasi NLE yakni Terminal Peti Kemas (TPK) dan pelabuhan yang dikelola anak perusahaan Pelindo 1 TPK Belawan Fase 2 yang dioperasikan PT Prima Terminal Petikemas, serta Kuala Tanjung Multipurpose Terminal (KTMT) yang dioperasikan PT Prima Multi Terminal.

“Untuk mendukung implementasi NLE, di TPK Belawan dan TPK Belawan Fase 2 sudah mengintegrasikan layanan dengan Single Submission Quarantine Custom (SSm – QC), Surat Penyerahan Petikemas (SP2) online, Delivery Order (DO) online dan autogate,” ujar Joko.

Sementara untuk Kuala Tanjung Multipurpose Terminal sudah diterapkan autogate dan sedang terus dikembangkan untuk diintegrasikan dengan layanan lainnya sebagai upaya dukungan implementasi NLE di pelabuhan.

Saat ini, NLE menjadi logistic digital collaboration platform yang mampu menyediakan layanan logistik dari hulu ke hilir yang menjadi ekosistem logistik yang menyelaraskan arus lalu lintas barang dan dokumen baik internasional maupun domestik sejak kedatangan sarana pengangkut hingga barang tiba di gudang. “Kami mendukung penuh inisiasi pemerintah dalam implementasi NLE sebagai upaya untuk melakukan simplifikasi proses bisnis layanan, kolaborasi sistem logistik, dan kemudahan transaksi pembayaran,” ucapnya.

Ditambahkannya, NLE menjadi salah satu bentuk nyata pemerintah untuk mendorong kelancaran logistik nasional serta menekan biaya logistik.  Implementasi NLE diharapkan dapat menghadirkan layanan yang efisien, sederhana dan terpadu. Akhirnya nanti akan mendukung kinerja layanan kepelabuhanan yang dikelola dari timur ke barat.@

(Fadmin Malau)

Scroll to Top