Medan | EGINDO.com – Enam puluh tujuh tahun dr. Sofyan Tan. “Apakah saya harus berhenti sampai di sini?” Pertanyaan itu pernah muncul dalam benak dr. Sofyan Tan. Bukan karena ia tak lagi peduli, tetapi justru karena terlalu lama berada di tengah persoalan masyarakat.
Terlalu banyak keluhan yang didengar, air mata yang disaksikan, serta harapan orang-orang yang datang dengan keyakinan bahwa masih ada jalan keluar. Pertanyaan itu kemudian menjadi bagian dari buku Jangan Berhenti, Pak, yang diluncurkan bertepatan dengan ulang tahun ke-67 dr. Sofyan Tan, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, pada Jumat (25/9/2026) di Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka Medan Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Buku Jangan Berhenti, Pak bukan sekadar catatan perjalanan seorang politisi dan tokoh pendidikan. Buku Jangan Berhenti, Pak menjadi kesaksian orang-orang yang selama bertahun-tahun berada dekat dengan perjalanan pengabdiannya.
Kepala Rumah Aspirasi dr. Sofyan Tan, Finche Kosmanto, SE, M.Psi, mengatakan buku tersebut lahir untuk merekam sisi lain Sofyan Tan yang tidak selalu terlihat di ruang publik. Mereka menyaksikan bagaimana Sofyan hadir di tengah masyarakat, mendengar keluhan, menemui anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berjuang mendapatkan pendidikan, serta berusaha membuka jalan bagi mereka yang hampir kehilangan harapan. Namun, di balik sosok yang terlihat tegar, ada manusia yang juga bisa lelah, terluka, dan resah. Dari situlah pertanyaan “Apakah saya harus berhenti?” pernah muncul.
Menurut Finche, pertanyaan itu bukan tanda menyerah. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut lahir dari hati seseorang yang masih begitu peduli. Karena itu, kalimat “Jangan Berhenti, Pak. Masih banyak yang menunggu” menjadi napas utama buku tersebut.

Kalimat itu bukan berarti Sofyan Tan harus selamanya menjadi anggota DPR. Bukan pula tentang mempertahankan sebuah jabatan. Pesannya jauh lebih sederhana dan mendasar, yakni jangan pernah berhenti berbuat baik dan membuka jalan bagi mereka yang membutuhkan. Sebab, jauh sebelum menjadi anggota DPR dan bahkan ketika suatu saat tidak lagi berada di parlemen, Sofyan Tan telah memberikan banyak hal bagi keluarga kurang mampu, terutama melalui pendidikan.
Buku Jangan Berhenti, Pak dirangkum dari kesaksian orang-orang di Rumah Aspirasi dr. Sofyan Tan, yakni Lisnawati Ginting, Pandapotan Tamba, Maya Erlina Rangkuti, Sri Widagdo, M. Rinaldi Khair, Dini Dayana, Putri, Samuel, dan Aldi. Mereka tidak menempatkan Sofyan Tan sebagai manusia tanpa cela. Justru buku itu memperlihatkan bahwa dibalik pengabdian panjang terdapat manusia yang bisa lelah dan sesekali bertanya kepada dirinya sendiri.
Memasuki usia 67 tahun, Sofyan Tan menegaskan bahwa langkah pengabdiannya belum selesai. Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) itu mengatakan kado terindah bukanlah kue atau hadiah ulang tahun. “Kado yang paling manis bagi saya bukan kue atau hadiah, tetapi karya-karya manis yang ditunjukkan melalui keberhasilan anak-anak didik dan lulusan kita yang sudah dibantu,” katanya.
YPSIM kini memasuki usia 39 tahun dan menaungi tujuh lembaga pendidikan, mulai TK, SD, SMP, SMA, SMK, perguruan tinggi hingga fasilitas klinik kesehatan. Keluarga besarnya telah mencapai lebih dari 13.000 orang. Perjalanan itu pun terus dilanjutkan. Rencana pembangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) disiapkan sebagai lembaga pendidikan ke-8, sebagai bagian dari upaya membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Di usia ke-67 ini, saya tidak akan pernah berhenti untuk selalu membantu orang-orang miskin mendapatkan pendidikan yang layak. Hidup saya bukan hanya untuk keluarga, tetapi untuk Indonesia yang kita cintai,” kata Sofyan Tan menegaskan.
Bagi Sofyan Tan, keberhasilan seorang anak dari keluarga sederhana meraih pendidikan jauh lebih berarti daripada seremoni ulang tahun. Karena itu, perayaan ulang tahun ke-67 tidak berhenti pada peluncuran buku. Sebanyak 200 paket sembako dibagikan kepada masyarakat umum di Desa Kampung Lalang, Sunggal, Deli Serdang, bersama mahasiswa Pamas dr. Sofyan Tan Universitas Prima Indonesia.
Sementara itu, di halaman Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, 67 paket sembako diberikan kepada 67 tukang becak di sekitar Medan Sunggal. Angka 67 bukan hanya menjadi simbol usia. Namun, hari itu angka tersebut seperti mengingatkan bahwa bertambah usia bukan berarti selesai melangkah. Masih ada anak yang ingin sekolah. Masih ada orang tua yang ingin melihat anaknya mengenakan toga. Masih ada keluarga yang menunggu jalan keluar dari keterbatasan. Itulah jawaban paling nyata atas pertanyaan yang pernah muncul dalam hati Sofyan Tan. Jawabannya datang bukan untuk meminta Sofyan Tan selamanya berada di kursi DPR. Jawabannya datang dari mereka yang masih menyimpan harapan.@
Rel/fd/timEGINDO.com