3 Poin Penting Jelang Keputusan Suku Bunga BI

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo

Jakarta|EGINDO.co Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah di level 5,75 persen pada keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (24/8/2023).

Langkah dovish BI diprediksi terjadi lantaran kegelisahan akan kenaikan suku bunga The Fed Amerika Serikat dapat meningkatkan tekanan pada nilai tukar rupiah.

Melansir dari Bloomberg pada Kamis (24/8/2023), dari 30 ekonom yang disurvei, 28 ekonom memproyeksikan suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate (BI-7DRR) akan tetap stabil di kisaran 5,75 persen.

Namun, ada dua ekonom, yaitu PT Bahana Sekuritas dan ING Groep NV, memperkirakan kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00 persen. Jika ini benar-benar terjadi, maka akan menjadi yang pertama sejak bank sentral tersebut terakhir kali menaikkan suku bunga acuan pada Januari 2023.

Upaya otoritas moneter Indonesia untuk menyeimbangkan stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi telah menjadi semakin sulit dalam menghadapi Federal Reserve (The Fed) yang masih dalam mode pengetatan.

Hal ini membuat rupiah dan mata uang-mata uang negara berkembang lainnya menjadi mata uang yang paling terpukul terhadap dolar AS, membuat mereka terpapar pada inflasi impor dan risiko aksi jual.

Baca Juga :  Selasa Pagi Kebakaran Kilang Pertamina Balongan Belum Padam

Dengan tingkat inflasi yang tetap terkendali sesuai target, Bank Indonesia mengatakan akan memfokuskan kebijakan moneter pada stabilitas nilai tukar.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pada hari Selasa, (22/8/2023), bahwa pihaknya akan terus membiarkan imbal hasil obligasi meningkat untuk menghadapi dampak pengetatan The Fed terhadap rupiah.

3 Hal yang Perlu Dicermati dalam Keputusan RDG BI

Berikut 3 hal yang perlu diperhatikan pada keputusan RDG BI yang akan diumumkan Kamis (24/8/2023) sekitar pukul 14:00 WIB.

1. Melemahnya Rupiah Rupiah telah berada di bawah tekanan bulan ini, terbebani oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih tinggi karena para trader memperkirakan prospek kenaikan suku bunga The Fed.

Mengacu pada data yang dihimpun Bloomberg, para investor asing lebih berhati-hati terhadap aset-aset Indonesia dan telah menjual obligasi senilai US$127 juta dan saham senilai US$1,2 miliar di bulan ini.

Hal ini menyebabkan rupiah turun 1,5 persen ke level terendah baru lima bulan terhadap dolar bulan ini, dan membuat imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun mencapai 6,75 persen, level yang terakhir kali terlihat di bulan April.

Baca Juga :  Tiga Kali Ditahan, Suku Bunga Acuan BI Tetap 3,5%

Surplus perdagangan semakin menyempit di dalam negeri karena ekspor menurun, memperburuk transaksi berjalan Indonesia menjadi defisit yang lebih besar dari perkiraan sebesar US$1,9 miliar pada kuartal terakhir.

“Ada kesan bahwa stabilitas rupiah baru-baru ini datang dengan mengorbankan intervensi besar-besaran, mengingat memburuknya neraca pembayaran baru-baru ini,” kata ekonom PT Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro.

Satria memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga pada pertemuan ini atau di bulan September untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

“Dari sudut pandang nilai tukar tertimbang perdagangan dan nilai tukar efektif riil, Rupiah kemungkinan akan melemah lebih lanjut,” katanya.

2. Langkah Kebijakan Dengan tekanan yang meningkat terhadap rupiah dan spekulasi penurunan suku bunga di pasar-pasar negara berkembang, para investor kini bertanya-tanya soal kebijakan BI selanjutnya, apakah pemangkasan atau kenaikan?

“Kami akan menantikan komentar-komentar dari Perry yang mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga akan dipertimbangkan karena perbedaan suku bunga telah menyempit secara signifikan,” kata ekonom ING Groep NV, Nicholas Mapa.

Baca Juga :  Yen Bergejolak Tembus Di Atas Level 145/$ , Dolar Menguat

Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Wisnu Wardana memperkirakan bahwa sikap moneter akan tetap netral di tengah rendahnya inflasi, kecuali ada kejutan dari The Fed yang mengguncang pasar dan menyebabkan pelemahan tajam pada rupiah.

Para ekonom di Bank Mandiri masih melihat BI akan mempertahakan suku bunga acuan, dan pemangkasan baru akan terjadi pada kuartal kedua tahun depan.

3. Prospek Pertumbuhan Perekonomian terbesar di Asia Tenggara ini berekspansi lebih cepat dari perkiraan sebesar 5,2 persen pada kuartal II/2023  karena konsumsi yang lebih kuat, namun mempertahankan pertumbuhan ini akan menjadi lebih menantang.

Harga-harga komoditas yang lebih rendah, ekspor yang lebih lemah, dan kemerosotan ekonomi di China menimbulkan risiko-risiko negatif terhadap pertumbuhan Indonesia, yang menurut perkiraan pemerintah akan mencapai 5,1 persen tahun ini dan 5,2 persen pada 2024.

Dalam menjaga pertumbuhan, Indonesia mengandalkan pengeluaran terkait pemilu dan proyek-proyek infrastruktur untuk membantu menopang permintaan domestik, yang menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB).

Sumber: Bisnis.com/Sn

Bagikan :
Scroll to Top