3 in 0ne, Ganjil Genap Belum Mampu Merubah Kemacetan Jakarta

Mantan Kasubdit Bin Gakkum Polda Metro Jaya AKBP (P) Budiyanto SSOS.MH
Mantan Kasubdit Bin Gakkum Polda Metro Jaya AKBP (P) Budiyanto SSOS.MH

Jakarta | EGINDO.com     -Mantan Kasubdit Bin Gakkum Polda Metro Jaya AKBP (P) Budiyanto SSOS.MH selaku Pemerhati masalah transportasi mengatakan,  Kemacetan Kota Jakarta merupakan situasi klasik yang sampai sekarang belum terpecahkan secara maksimal.

Perkembangan kendaraan bermotor yang tidak sebanding dengan pembangunan infrastruktur jalan, sebagai penyebab utama penyumbang kemacetan di Jakarta , ditambah kurang disiplin pengguna jalan di Jakarta,ujarnya.

Dikatakan Budiyanto upaya dalam mengurai kemacetan di Jakarta, sudah dilaksanakan dari mulai program pembatasan lalu lintas dengan skema Three In one ( 3 In one ) , sampai dengan Ganjil – genap ( Gage ) namun secara empiris belum mampu merubah atau mereduksi kemacetan bahkan pada ruas – ruas jalan tentu,sering mengalami kemacetan luar biasa. Masing-masing  program masih memiliki titik lemah sehingga kontribusinya dalam mengurai kemacetan tidak maksimal.

Program Three In one yang digulirkan sekitar tahun 2003 menimbulkan permasalahan sosial dan pelanggaran hukum lainnya,misal : Munculnya jocki- jocki, eksploitasi anak dan pidana lainya : Pencurian, tegas Budiyanto.

Dengan evaluasi tersebut akhirnya pada bulan Juli 2016, program pembatasan lalu lintas dengan skema Three in one dihapus dan diganti dengan skema pembatasan lalu lintas Ganjil -Genap ( Gege ).

Program pembatasan lalu lintas dengan skema Ganjil – Genap dalam jangka pendek dapat memberikan dampak positif dari aspek lalu lintas, misal : menurunnya volume kendaraan, kecepatan meningakat,travel time meningkat dan menurunnya tingkat polusi pada ruas-ruas penggal jalan yang diberlakukan Ganjil – Genap,kata Budiyanto.

Namun dalam jangka panjang secara empiris dapat kita lihat kurang efektif karena kemacetan terjadi di jalan – jalan  alternatif yang tidak diberlakukan Gage, termasuk ruas-ruas penggal jalan yang diberlakukan Gage. Seiring dengan perjalanan waktu kendaraan bermotor akan bertambah terus , masyarakat ekonomi menengah keatas akan membeli mobil baru dengan nomer yang berbeda, penggunaan plat nomer tidak peruntukannya dan sebagainya,tegas Budiyanto.

Baca Juga :  Polres Bogor Terapkan Metode Baru Ganjil-Genap Jalur Puncak

Mantan Kasubdit Bin Gakkum ini melanjutkan dengan kelemahan-kelemahan yang  melekat pada program pembatasan lalu lintas tersebut akhirnya program tersebut belum mampu memberikan kontribusi konteknya dengan urai kemacetan.

Wacana yang cukup efektif yang pernah digulirkan oleh Pemda DKI, dengan program pembatasan lalu lintas dengan skema ERP (electronic road pricing/ jalan berbayar ) , sejak tahun 2014 sampai dengan sekarang belum terwujud karena ada kendala teknis yang menurut informasi berkaitan dengan lelang perangkat ERP,ungkapnya.

Ditilik dari mekanisme dan manfaatnya sebenarnya cukup baik dan efektif. Ruas penggal jalan yang diberlakukan jalur ERP (electronic road pricing) akan dipasang gerbang yang dilengkapi dgn teknologi sensor yang mampu bekerja secara otomotis,tegas Budiyanto.

Kendaraan bermotor yang sudah dilengkapi OBU ( On Unit Board ) yang terisi pulsa, secara otomatis akan kena tembakan sensor, dan secara otomatis pula pulsa akan berkurang.

Hasil dari program ERP (electronic road pricing) dapat digunakan pembangunan infrastruktur untuk perawatan dan pengembangan sebagai bentuk benefit. Program yang terukur dengan baik akan berkontribusi menyelesaikan permasalahan lalu lintas ,terutama kemacetan lalu lintas.tutup Budiyanto.@Sn

Bagikan :